Beberapa hari yang lalu, Timnas Garuda Muda takluk di tangan Brunei Darussalam. Keunggulan 2 gol Brunei atas Indonesia mengubur mimpi seluruh bangsa Indonesia untuk membawa pulang Piala Hassanal Bolkiah. Serangan pemain-pemain Indonesia dapat diimbangi dengan pertahanan yang baik oleh pemuda-pemuda Brunei tersebut. Semangat menyerang para Garuda Muda membuat mereka kecolongan 2 gol di babak kedua tanpa mampu membalikkan keadaan.
Terlepas dari kekalahan itu, kita semua pasti melihat beberapa spanduk bertuliskan “bonek” yang identik dengan fans berat Persebaya Surabaya. Ya, selain jago di Pulau Jawa, ternyata bonek sudah nekat mencapai Bandar Seri Begawan, tempat di mana turnamen ini berlangsung. Tetapi para bonek ini bukanlah bonek yang sering kita lihat menumpang kereta tanpa membayar, bonek yang menonton pertandingan adalah bonek yang lebih makmur, yaitu arek-arek Surabaya yang memang bekerja di Brunei. Mereka ingin menunjukkan rasa nasionalisme mereka dengan mendukung penuh Timnas Indonesia selama bertanding di Brunei.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasionalisme adalah kesadaran keanggotaan di suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu. Nasionalisme bukan sekedar menunjukkan bahwa saya bangsa Indonesia. Tapi menunjukkan dan memperjuangkan agar Indonesia menjadi negara yang makmur warganya, negara yang kuat perekonomiannya dan negara yang berpengaruh di dunia.
Nasionalisme yang tampak saat ini hanyalah nasionalisme untuk mengabadikan identitas semata. Jika ada pertandingan sepak bola, bulutangkis, balap mobil dan cabang olahraga lain yang melibatkan atlet-atlet Indonesia, masyarakat ramai-ramai menunjukkan rasa nasionalismenya dengan menonton pertandingan tersebut.
Pembangunan kawasan perbatasan dan daerah tertinggal di Indonesia tidak diiringi semangat nasionalisme oleh beberapa pihak yang terlibat. Sebagai contoh, pembangunan Papua melalui otonomi khusus. Pemerintah pusat telah mengalokasikan dana yang besar kepada pemerintah daerah Papua dan Papua Barat untuk pembangunan fisik dan mental masyarakat. Akan tetapi, sangat sedikit perubahan yang terjadi. Transportasi tetap sulit, jumlah sekolah masih sedikit. Dampaknya, muncul ketidak percayaan masyarakat Papua terhadap pemerintah sehingga mereka menginginkan untuk merdeka.
Tidak perlu jauh-jauh ke Papua, dalam memilih barang-barang keperluan pribadi mungkin kita lebih kenal merek asing daripada merek lokal. Kita lebih familier dengan Sony daripada Polytron, kita lebih paham Samsung dibanding Maspion, orangpun lebih memilih membeli Daihatsu daripada membeli GEA yang merupakan produk asli PT. INKA. Padahal, ketiga industri elektronik dan otomotif nasional di atas memanfaatkan SDM lokal dalam setiap tahap produksi mereka. Jika perusahaan tersebut untung, maka yang merasakan manfaatnya adalah masyarakat sekitar juga, bangsa Indonesia juga.
Perlulah kita belajar dari tetangga kita, masyarakat Malaysia lebih suka dengan produk mereka sendiri. Sehingga saat ini kita mengenal Proton dan Petronas sebagai perusahaan kelas dunia. Semua berawal dari semangat dan kesadaran untuk memajukan kesejahteraan bangsa mereka
S.303
12032012

0 komentar:
Posting Komentar